Education theory of learning

Education theory of learning

Teori pembelajaran menjelaskan bagaimana siswa menerima, memproses, dan menyimpan pengetahuan selama pembelajaran. Pengaruh kognitif, emosional, dan lingkungan, serta pengalaman sebelumnya, semuanya berperan dalam bagaimana pemahaman, atau pandangan dunia, diperoleh atau diubah dan pengetahuan serta keterampilan dipertahankan.

Para penganut paham behaviorisme memandang pembelajaran sebagai sebuah aspek pengondisian dan dukungan terhadap sistem penghargaan dan target dalam pendidikan. Pendidik yang menganut teori kognitif percaya bahwa definisi belajar sebagai perubahan perilaku terlalu sempit, dan mempelajari siswa dibandingkan lingkungannya—dan khususnya kompleksitas memori manusia. Mereka yang mendukung konstruktivisme percaya bahwa kemampuan pelajar untuk belajar sangat bergantung pada apa yang telah https://lalinsemarang.info/ mereka ketahui dan pahami, dan perolehan pengetahuan harus merupakan proses konstruksi yang dirancang secara individual. Teori pembelajaran transformatif berfokus pada perubahan yang diperlukan dalam prakonsepsi dan pandangan dunia pelajar. Teori pembelajaran geografis berfokus pada cara konteks dan lingkungan membentuk proses pembelajaran.

Di luar bidang psikologi pendidikan, teknik untuk mengamati secara langsung fungsi otak selama proses pembelajaran, seperti potensi terkait peristiwa dan pencitraan resonansi magnetik fungsional, digunakan dalam ilmu saraf pendidikan. Teori kecerdasan majemuk, dimana pembelajaran dipandang sebagai interaksi antara lusinan area fungsional berbeda di otak yang masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing pada setiap pembelajar manusia, juga telah diajukan, namun penelitian empiris menemukan bahwa teori tersebut tidak benar. tidak didukung oleh bukti.

Educational philosophy

Classical theorists

Plato (428 SM – 347 SM) mengajukan pertanyaan: «Bagaimana seseorang mempelajari sesuatu yang baru padahal topiknya baru bagi orang tersebut?», Pertanyaan ini mungkin tampak sepele; namun, bayangkan komputer yang mirip manusia. Pertanyaannya kemudian menjadi: Bagaimana komputer menerima informasi faktual tanpa pemrograman sebelumnya? Plato menjawab pertanyaannya sendiri dengan menyatakan bahwa pengetahuan sudah ada sejak lahir dan segala informasi yang dipelajari seseorang hanyalah sekedar ingatan akan sesuatu yang telah dipelajari jiwa sebelumnya, yang disebut dengan Teori Perenungan atau epistemologi Platonis.

Jawaban ini dapat dibenarkan lebih lanjut dengan sebuah paradoks: Jika seseorang mengetahui sesuatu, mereka tidak perlu mempertanyakannya, dan jika seseorang tidak mengetahui sesuatu, mereka tidak tahu untuk mempertanyakannya.

Plato mengatakan bahwa jika seseorang sebelumnya tidak mengetahui sesuatu, maka ia tidak dapat mempelajarinya. Ia menggambarkan pembelajaran sebagai sebuah proses pasif, dimana informasi dan pengetahuan tertanam dalam jiwa seiring berjalannya waktu. Namun, teori Plato menimbulkan lebih banyak pertanyaan tentang pengetahuan: Jika kita hanya dapat mempelajari sesuatu ketika pengetahuan tersebut telah ditanamkan ke dalam jiwa kita, lalu bagaimana jiwa kita memperoleh pengetahuan tersebut? Teori Plato mungkin tampak berbelit-belit; Namun, teori klasiknya masih dapat membantu kita memahami pengetahuan saat ini.

0 ответы

Ответить

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Добавить комментарий

Ваш адрес email не будет опубликован. Обязательные поля помечены *