Phnom Bakheng: Jejak Sejarah dan Simbolisme Kerajaan Angkor

Phnom Bakheng: Jejak Sejarah dan Simbolisme Kerajaan Angkor

Phnom Bakheng, sebuah bukit setinggi 65 meter yang menjulang di utara Angkor Thom, Kamboja, adalah saksi bisu dari puncak kejayaan Kerajaan Khmer. Situs ini bukan sekadar bukit biasa, melainkan fondasi bagi sebuah kuil megah yang dibangun pada akhir abad ke-9, menjadikannya salah satu struktur tertua di kawasan Angkor.

Sejarah Singkat: Awal Mula Ibu Kota Baru

Pembangunan Phnom Bakheng dimulai pada masa pemerintahan Raja Yasovarman I (889-910 M). Pada saat itu, raja memindahkan ibu kota dari Roluos (sekitar 15 km di sebelah timur) ke wilayah Angkor saat ini. Yasovarman I memilih Phnom Bakheng sebagai pusat ibu kota barunya, yang ia beri nama Yasodharapura. Lokasi strategis di puncak bukit ini tidak hanya memberikan pemandangan indah ke sekeliling, tetapi juga memiliki nilai pertahanan yang penting.

Kuil di Phnom Bakheng, yang didedikasikan untuk Dewa Siwa, dibangun dalam gaya arsitektur yang dikenal sebagai gaya Bakheng. Kuil ini memiliki lima menara utama yang terletak di puncak piramida berjenjang. Pembangunannya menandai transisi penting dalam arsitektur Khmer, dengan penggunaan batu pasir yang lebih masif daripada bata. Meskipun kini sebagian besar menara dan strukturnya runtuh, sisa-sisa reruntuhan masih memancarkan keagungan masa lalu.

Simbolisme Kosmis yang Mendalam

Setiap elemen di Phnom Bakheng sarat dengan makna simbolis yang menggambarkan kosmologi Hindu. Konsep Gunung Meru, pusat alam semesta dalam  https://www.tamanmatahari.com/ mitologi Hindu, direpresentasikan secara fisik oleh piramida berjenjang di puncak bukit. Lima menara di puncak piramida melambangkan lima puncak Gunung Meru, yang merupakan kediaman para dewa.

Jumlah menara yang ada di Phnom Bakheng juga memiliki makna astronomis. Terdapat total 108 menara kecil yang mengelilingi kuil, sebuah angka yang dianggap suci dalam tradisi Hindu dan Budha. Angka 108 adalah hasil dari perkalian 9 (angka suci) dengan 12 (jumlah bulan dalam setahun) atau 27 (jumlah rasi bintang) dengan 4 (jumlah arah mata angin), melambangkan keutuhan alam semesta.

Selain itu, kuil ini juga merefleksikan konsep linga dan yoni, simbol kesuburan dan penciptaan. Sebuah linga besar, representasi Dewa Siwa, mungkin pernah berdiri di menara utama, sementara yoni, simbol dewi, diwakili oleh struktur di sekelilingnya.

Saat ini, Phnom Bakheng menjadi tempat yang populer bagi para wisatawan untuk menyaksikan matahari terbenam yang memukau di atas Angkor Wat. Namun, di balik keramaian itu, tersembunyi sebuah monumen bersejarah yang tak hanya menampilkan kehebatan arsitektur masa lalu, tetapi juga menyimpan kedalaman filosofi dan simbolisme dari peradaban kuno Khmer.

0 ответы

Ответить

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Добавить комментарий

Ваш адрес email не будет опубликован. Обязательные поля помечены *